Social Media - Memberikan Ruang Untuk Membentuk Identitas Baru
Perkembangan
teknologi yang pesat ditujukan untuk memudahkan aktivitas komunikasi. Berbagai
aplikasi dan social media seolah
bersaing untuk menjadi alat yang paling banyak digunakan oleh manusia dan
akibatnya menjadikan penggunaan social
media tersebut sebagai sebuah “trend”
yang harus terus diikuti oleh masyarakat masa kini. Mulai dari facebook yang mulai ditinggalkan, hingga
twitter dan instagram merupakan beberapa social
media yang seolah wajib dimiliki oleh remaja masa kini, dengan tujuan utama
bukan lagi mempermudah komunikasi namun juga demi mengikuti perkembangan zaman.
Pergeseran
tujuan penggunaan social media demi
mengikuti perkembangan zaman menjadikan sebagian besar pengguna social media berlomba-lomba untuk
menjadi populer, diakui dan diterima dalam dunia nyata maupun dunia maya. Kebanyakan
orang cenderung sibuk berselancar di dunia maya seakan mengabaikan orang-orang
yang berada di dunia nyata. Seseorang yang hidup dilingkungan seperti itu,
secara tidak langsung dituntut untuk bergabung dalam dunia maya agar dapat
terlibat dengan orang-orang disekitarnya. Namun untuk dapat diterima di dunia
maya tidak semudah saat kita log-in
dalam salah satu akun social media.
Untuk
dapat diakui dan diterima dalam lingkup dunia maya, baik terhadap orang-orang
yang telah kita temui di dunia nyata maupun hanya di dunia maya saja, kita
harus mempresentasikan identitas yang ingin kita tunjukan di dunia maya. Kita
dapat mempresentasikan identitas kita sebagaimana dalam dunia nyata atau
mempresentasikan identitas virtual yang sengaja kita bentuk sebagai media untuk
melakukan interaksi, pelepasan diri, kebebasan berekspresi atau sekedar
memenuhi kebutuhan dan meraih potensi yang diinginkan secara maksimal.
Setiap
orang, baik untuk mempermudah komunikasi maupun untuk mengikuti perkembangan
zaman, setidaknya memiliki satu media
social yang sering digunakan untuk mempresentasikan identitas diri. Akan
mudah bagi mereka yang mempunyai keistimewaan untuk diterima di dunia maya,
meskipun hanya mengandalkan identitas dirinya sebagaimana ia dikenal dalam
dunia nyata. Namun mereka juga mimiliki pilihan untuk menggunakan identitas
virtual. Dalam penggunaan identitas virtual, maka interaksi yang dilakukan pun
menjadi interaksi virtual yang dapat melahirkan self-definition dan menawarkan self-invention.
Setiap orang memiliki kemampuan tanpa batas untuk mengekspresikan siapa dirinya
di dunia maya yang pada akhirnya akan mewakilkan dirinya dalam memainkan peran
dalam dunia maya.
Terdapat
tiga elemen dasar kekuatan individu di dunia maya, sesuai yang disampaikan oleh
Tim Jordan (1999, 62-87) yaitu identity
fluidity, renovated hierarchies
dan information as reality. Dari
ketiga elemen tersebut, identity fluidity
sangat berkaitan dengan identitas virtual yang sedang kita bahas. Identity fluidity memiliki makna sebagai
sebuah proses pembentukan identitas secara online atau virtual dan identitas
yang terbentuk tidak harus sama atau mendekati dengan identitas di dunia nyata.
Pembentukan identitas virtual ini banyak kita temui dalam kehidupan kita di
berbagai media social, bahkan sangat memungkinkan bahwa kita merupakan salah
satu dari pengguna dunia maya yang menggunakan identitas virtual.
Social
media memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi semua penggunanya untuk
membentuk virtual identitas. Kita sebagai pengguna dapat mengatur apa saja yang
harus diketahui dan tidak boleh diketahui oleh masyarakat dalam dunia maya atau
dunia virtual. Salah satu social media
yang saat ini sangat marak digunakan oleh sebagian besar remaja adalah
instagram. Melalui instagram, kita dapat mem-posting foto dan video pendek disertai dengan tulisan sebagai
penjelas mengenai apa yang kita share
kepada masyarakat dunia maya.
Untuk
dapat eksis, atau setidaknya diakui
dan diterima dalam kehidupan social media
instagram, kita akan mengikuti apa yang diharapkan oleh pengguna instagram
lainnya dari akun yang kita miliki, atau sekedar menunjukkan sesuatu yang
menarik dari diri kita melalui foto yang kita unggah. Hal ini sama kaitannya
dengan konsep diri kita di dunia nyata yang terbentuk berdasarkan harapan dan
pandangan orang lain terhadap diri kita.
Seperti
yang sudah dijelaskan bahwa sangat memungkinkan kita tidak akan terhindar dari
pembentukan identitas virtual, baik memang disengaja maupun tanpa disadari.
Saya sendiri, saat menuliskan pemaparan mengenai hal ini menyadari bahwa tanpa
disengaja saya pernah membentuk identitas virtual melalui foto yang di posting dalam akun instagram saya. Dengan
mem-posting sebuah gambar screenshot aplikasi sing! (aplikasi karaoke online),
yang saya maksudkan untuk membentuk identitas virtual bahwa saya cukup bagus
dalam menyanyi padahal bertolak belakang dengan identitas saya di dunia nyata.
Hal
yang sama mengenai identitas yang terbentuk dalam social media, juga terjadi
pada salah seorang teman saya. Sebut saja Angga, yang sekarang dikenal dengan
sebutan selebgram (selebriti
instagram) karena paras tampan dan talenta yang dimiliki seperti kemampuan
menari yang bagus membuat Angga memiliki kepopuleran di sekitar orang
terdekatnya dalam dunia nyata. Memiliki kepopuleran di dunia nyata, tidak
membuat Angga merasa cukup. Oleh sebab itu, menggunakan akun instagram
miliknya, Angga merasa bebas untuk berekspresi, menunjukkan potensi dirinya dan
ingin semakin diakui oleh masyarakat yang jangkauannya lebih luas.
Sebelum
menggunakan instagram untuk memperluas kepopulerannya, Angga hanya populer di kalangan
orang-orang sekitarnya. Namun, setelahnya ia berhasil dikenal luas oleh orang-orang
bahkan oleh mereka yang belum pernah ia temui. Kepopulerannya membawa ia pada
berbagai pekerjaan entertain seperti endorsement dan model. Pada akhirnya,
identitas Angga yang sebenarnya banyak disukai karena kepiawaiannya menari
seolah tidak lagi berarti. Angga lebih disibukkan dengan perannya sebagai
selebgram, mengisi timeline instagramnya untuk mempromosikan berbagai produk online shop dan berfoto dengan berbagai pose selayaknya seorang model.
Kembali
dengan kaitannya dengan konsep diri, Angga dengan kehidupannya dalam dunia maya
dan dengan identitas virtual yang ia sengaja bentuk untuk memperoleh
kepopuleran yang lebih luas, Angga membentuk identitasnya dengan memenuhi
harapan pengguna instagram dengan foto-foto yang ia unggah dengan menonjolkan
beberapa hal menarik sehingga mendapat banyak like dan comment. Namun
hal itu saja tidak cukup. Hal ini di buktikan dengan dibanjirinya setiap posting-annya dengan pujian dan juga
hujatan atau celaan.
Komunikasi
menjadi kebutuhan bagi manusia, itu sebabnya social media hadir menjembatani
setiap individu yang berada di lain tempat bahkan berbeda negara. Hal ini
mengakibatkan adanya kehidupan lain di dalam kehidupan nyata dimana individu
satu dapat bertemu dengan orang yang ia kenal dan bahkan orang yang belum
pernah ia temui. hal inilah yang memungkinkan seseorang memiliki identitas lain
(identitas virtual) yang tidak sama bahkan bertolak belakang dengan identitasnya
di dunia nyata. Memiliki identitas virtual yang sama maupun berbeda dengan
identitas sebenarnya merupakan pilihan setiap individu dengan berbagai maksud,
baik hanya untuk berinteraksi di dunia maya, pelepasan diri, kebebasan
berekspresi atau hanya agar mendapat pengakuan dan diterima.
Daftar
Pustaka :
Jordan,
Tim. 1999. Cyberpower : The Culture and
Politics of Cyberspace and The Internet. London : Routledge
0 komentar