Social Media - Memberikan Ruang Untuk Membentuk Identitas Baru

by - 03.51



Perkembangan teknologi yang pesat ditujukan untuk memudahkan aktivitas komunikasi. Berbagai aplikasi dan social media seolah bersaing untuk menjadi alat yang paling banyak digunakan oleh manusia dan akibatnya menjadikan penggunaan social media tersebut sebagai sebuah “trend” yang harus terus diikuti oleh masyarakat masa kini. Mulai dari facebook yang mulai ditinggalkan, hingga twitter dan instagram merupakan beberapa social media yang seolah wajib dimiliki oleh remaja masa kini, dengan tujuan utama bukan lagi mempermudah komunikasi namun juga demi mengikuti perkembangan zaman.
Pergeseran tujuan penggunaan social media demi mengikuti perkembangan zaman menjadikan sebagian besar pengguna social media berlomba-lomba untuk menjadi populer, diakui dan diterima dalam dunia nyata maupun dunia maya. Kebanyakan orang cenderung sibuk berselancar di dunia maya seakan mengabaikan orang-orang yang berada di dunia nyata. Seseorang yang hidup dilingkungan seperti itu, secara tidak langsung dituntut untuk bergabung dalam dunia maya agar dapat terlibat dengan orang-orang disekitarnya. Namun untuk dapat diterima di dunia maya tidak semudah saat kita log-in dalam salah satu akun social media.
Untuk dapat diakui dan diterima dalam lingkup dunia maya, baik terhadap orang-orang yang telah kita temui di dunia nyata maupun hanya di dunia maya saja, kita harus mempresentasikan identitas yang ingin kita tunjukan di dunia maya. Kita dapat mempresentasikan identitas kita sebagaimana dalam dunia nyata atau mempresentasikan identitas virtual yang sengaja kita bentuk sebagai media untuk melakukan interaksi, pelepasan diri, kebebasan berekspresi atau sekedar memenuhi kebutuhan dan meraih potensi yang diinginkan secara maksimal.

Setiap orang, baik untuk mempermudah komunikasi maupun untuk mengikuti perkembangan zaman, setidaknya memiliki satu media social yang sering digunakan untuk mempresentasikan identitas diri. Akan mudah bagi mereka yang mempunyai keistimewaan untuk diterima di dunia maya, meskipun hanya mengandalkan identitas dirinya sebagaimana ia dikenal dalam dunia nyata. Namun mereka juga mimiliki pilihan untuk menggunakan identitas virtual. Dalam penggunaan identitas virtual, maka interaksi yang dilakukan pun menjadi interaksi virtual yang dapat melahirkan self-definition dan menawarkan self-invention. Setiap orang memiliki kemampuan tanpa batas untuk mengekspresikan siapa dirinya di dunia maya yang pada akhirnya akan mewakilkan dirinya dalam memainkan peran dalam dunia maya.
Terdapat tiga elemen dasar kekuatan individu di dunia maya, sesuai yang disampaikan oleh Tim Jordan (1999, 62-87) yaitu identity fluidity, renovated hierarchies dan information as reality. Dari ketiga elemen tersebut, identity fluidity sangat berkaitan dengan identitas virtual yang sedang kita bahas. Identity fluidity memiliki makna sebagai sebuah proses pembentukan identitas secara online atau virtual dan identitas yang terbentuk tidak harus sama atau mendekati dengan identitas di dunia nyata. Pembentukan identitas virtual ini banyak kita temui dalam kehidupan kita di berbagai media social, bahkan sangat memungkinkan bahwa kita merupakan salah satu dari pengguna dunia maya yang menggunakan identitas virtual.
Social media memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi semua penggunanya untuk membentuk virtual identitas. Kita sebagai pengguna dapat mengatur apa saja yang harus diketahui dan tidak boleh diketahui oleh masyarakat dalam dunia maya atau dunia virtual. Salah satu social media yang saat ini sangat marak digunakan oleh sebagian besar remaja adalah instagram. Melalui instagram, kita dapat mem-posting foto dan video pendek disertai dengan tulisan sebagai penjelas mengenai apa yang kita share kepada masyarakat dunia maya.
Untuk dapat eksis, atau setidaknya diakui dan diterima dalam kehidupan social media instagram, kita akan mengikuti apa yang diharapkan oleh pengguna instagram lainnya dari akun yang kita miliki, atau sekedar menunjukkan sesuatu yang menarik dari diri kita melalui foto yang kita unggah. Hal ini sama kaitannya dengan konsep diri kita di dunia nyata yang terbentuk berdasarkan harapan dan pandangan orang lain terhadap diri kita.
Seperti yang sudah dijelaskan bahwa sangat memungkinkan kita tidak akan terhindar dari pembentukan identitas virtual, baik memang disengaja maupun tanpa disadari. Saya sendiri, saat menuliskan pemaparan mengenai hal ini menyadari bahwa tanpa disengaja saya pernah membentuk identitas virtual melalui foto yang di posting dalam akun instagram saya. Dengan mem-posting sebuah gambar screenshot aplikasi sing! (aplikasi karaoke online), yang saya maksudkan untuk membentuk identitas virtual bahwa saya cukup bagus dalam menyanyi padahal bertolak belakang dengan identitas saya di dunia nyata.
Hal yang sama mengenai identitas yang terbentuk dalam social media, juga terjadi pada salah seorang teman saya. Sebut saja Angga, yang sekarang dikenal dengan sebutan selebgram (selebriti instagram) karena paras tampan dan talenta yang dimiliki seperti kemampuan menari yang bagus membuat Angga memiliki kepopuleran di sekitar orang terdekatnya dalam dunia nyata. Memiliki kepopuleran di dunia nyata, tidak membuat Angga merasa cukup. Oleh sebab itu, menggunakan akun instagram miliknya, Angga merasa bebas untuk berekspresi, menunjukkan potensi dirinya dan ingin semakin diakui oleh masyarakat yang jangkauannya lebih luas.
Sebelum menggunakan instagram untuk memperluas kepopulerannya, Angga hanya populer di kalangan orang-orang sekitarnya. Namun, setelahnya ia berhasil dikenal luas oleh orang-orang bahkan oleh mereka yang belum pernah ia temui. Kepopulerannya membawa ia pada berbagai pekerjaan entertain seperti endorsement dan model. Pada akhirnya, identitas Angga yang sebenarnya banyak disukai karena kepiawaiannya menari seolah tidak lagi berarti. Angga lebih disibukkan dengan perannya sebagai selebgram, mengisi timeline instagramnya untuk mempromosikan berbagai produk online shop dan berfoto dengan berbagai pose selayaknya seorang model.
Kembali dengan kaitannya dengan konsep diri, Angga dengan kehidupannya dalam dunia maya dan dengan identitas virtual yang ia sengaja bentuk untuk memperoleh kepopuleran yang lebih luas, Angga membentuk identitasnya dengan memenuhi harapan pengguna instagram dengan foto-foto yang ia unggah dengan menonjolkan beberapa hal menarik sehingga mendapat banyak like dan comment. Namun hal itu saja tidak cukup. Hal ini di buktikan dengan dibanjirinya setiap posting-annya dengan pujian dan juga hujatan atau celaan.

Komunikasi menjadi kebutuhan bagi manusia, itu sebabnya social media hadir menjembatani setiap individu yang berada di lain tempat bahkan berbeda negara. Hal ini mengakibatkan adanya kehidupan lain di dalam kehidupan nyata dimana individu satu dapat bertemu dengan orang yang ia kenal dan bahkan orang yang belum pernah ia temui. hal inilah yang memungkinkan seseorang memiliki identitas lain (identitas virtual) yang tidak sama bahkan bertolak belakang dengan identitasnya di dunia nyata. Memiliki identitas virtual yang sama maupun berbeda dengan identitas sebenarnya merupakan pilihan setiap individu dengan berbagai maksud, baik hanya untuk berinteraksi di dunia maya, pelepasan diri, kebebasan berekspresi atau hanya agar mendapat pengakuan dan diterima.


Daftar Pustaka :
Jordan, Tim. 1999. Cyberpower : The Culture and Politics of Cyberspace and The Internet. London : Routledge


You May Also Like

0 komentar